Supervisor warehouse menerapkan pengendalian persediaan bahan MBG yang comprehensive untuk menjaga availability dan quality. Pertama-tama, systematic approach dalam inventory management mencegah stockout yang disruptive dan overstock yang costly. Oleh karena itu, balance optimal antara service level dan carrying cost menjadi target utama.
Digital inventory system memberikan real-time visibility terhadap stock position di semua lokasi. Selain itu, automated reorder mechanism memastikan replenishment action timely dan adequate. Dengan demikian, technology-enabled control ini meningkatkan accuracy dan efficiency significantly.
Klasifikasi dan Kategorisasi Bahan
Segmentasi inventory berdasarkan karakteristik produk memfasilitasi differentiated control strategy. Pertama, perishable items dengan shelf life pendek mendapat prioritas highest dalam monitoring dan rotation. Kemudian, non-perishable goods dengan demand stable di-manage dengan economic order quantity approach.
High-value items memerlukan tighter security dan more frequent physical count. Selanjutnya, slow-moving materials dengan consumption irregular need special attention untuk prevent obsolescence. Alhasil, tailored approach ini optimizing resource allocation untuk inventory management.
Parameter Pengendalian Stock Level
Minimum stock level ditetapkan berdasarkan lead time demand plus safety stock untuk variability. Pada dasarnya, calculation mempertimbangkan historical consumption pattern dan supplier reliability. Misalnya, bahan dengan lead time 7 hari memerlukan minimum stock untuk 10 hari consumption.
Maximum stock level dibatasi oleh storage capacity dan working capital availability. Lebih lanjut, reorder point di-trigger automatic ketika stock level turun ke threshold predetermined. Oleh karena itu, parameter-driven control ini minimizing human error dan response delay.
Monitoring dan Audit Persediaan
Cycle counting dengan frequency based on ABC classification memverifikasi inventory accuracy continuously. Pertama, high-value A items di-count weekly sedangkan C items cukup monthly atau quarterly. Kemudian, variance investigation untuk discrepancy significant mengidentifikasi root cause dan corrective action.
Physical inventory tahunan dengan external auditor providing independent verification dan assurance. Di samping itu, spot check random oleh management memastikan staff compliance dengan procedure. Akibatnya, multi-layer verification ini maintaining inventory integrity dan deterring irregularity.
Poin-Poin Pengendalian Persediaan Bahan MBG
- Inventory policy: Document clear policy covering ordering, receiving, storage, dan issuance
- Access control: Restrict warehouse access dan implement sign-in/out procedure
- Condition monitoring: Regular inspection untuk identify damaged atau deteriorated
- FIFO enforcement: Strict implementation dengan visual system dan staff accountability
- Shrinkage prevention: Implement control untuk minimize loss dari waste atau pilferage
- Demand forecasting: Use historical data dan trend analysis untuk predict requirement accurate
Kesimpulan
Pada akhirnya, pengendalian persediaan bahan MBG yang effective menjadi critical enabler untuk operational reliability program. Klasifikasi yang systematic, parameter control yang scientifically determined, dan monitoring yang vigilant menciptakan inventory management yang excellent. Dengan menerapkan best practice dalam stock control, program MBG dapat menjamin availability bahan berkualitas sambil minimizing waste dan cost untuk menyediakan makanan bergizi konsisten kepada anak-anak Indonesia setiap hari.